MARUTI SUTA CENTER

Paduan Supranatural dan Spiritual

Kasih Guruji Untuk Kita Semua

Putu Astina Tentang Guruji :
Jay Guru Dev

Sebenarnya Guruji sudah sering kali datang mengunjungi pulau Bali ini. Teman teman PMS sudah hampir semuanya dapat bertemu dan sujud di kaki Beliau. Sedangkan saya tidak pernah bisa ikut dengan mereka karena banyak karma perintang yang selalu menyibukkan saya dalam hal duniawi. Tapi saya selalu berdoa agar suatu saat nanti saya harus bis abertemu dan sujud di kaki Beliau. Akhirnya pada suatu hari keinginan yang saya harap harapkan dari dulu untuk bis asujud pada beliau akhirnya tiba, tepatnya pada tanggal 19 April 2008 Beliau datang lagi ke Bali mengambil tempat di Hotel Bali Beach Sanur room no 700. Begitu ada kabar dari guru besar saya bahwa sore itu kita akan berangkat menemui Guruji, entah bagaimana berbagai macam perasaan muncul dalam hati, jantung berdebar debar karena senang tapi di satu sisi muncul perasaan khawatir dan takut karena saya merasa bahwa bathinsaya masih terasa keruh sekali, sempat juga melintas dalam pikiran jangan jangan sampai disana saya tidak dihiraukan oleh Beliau karena saya banyak dosa.
Hingga akhirnya pada tanggal 19 April 2008 sekitar pukul 17.30 saya bersama rombongan tiba disana. Sampai disana Guruji dikabarkan keluar sekitar jam 6 sore, kami sudah berkumpul menunggu Beliau di lobby. Tapi ternyata Beliau keluar sekitar pukul 19.05 wita, Begitu Beliau muncul dihadapan saya, saya kaget dan bingung entah bagaimana, sampai sampai cara untuk sujud saya lupa.
Perasaan takut dan khawatir tadinya itu hilang seketika, seumur umur saya belum pernah memiliki rasa senang seperti itu, sepertinya tidak ada beban sama sekali dalam pikiran, saya merasa tidak kekurangan sesuatu apapun saat itu. Semua terasa terang, tenang, damai, pokoknya kesenangan itu susah sekali dikatakan……..
Hanya itu yang bisa saya ungkapkan, semoga kita diberi umur panjang agar bisa bertemu dan sujud dengan Beliau lagi………….
Wayan Taman Tentang Guruji :
Jay Guru Dev…
Puji Syukur kami haturkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa serta Sujud Bakti kami di Kaki Padma Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, karena atas KaruniaNya kami dapat melakukan suatu kebaikan dengan dapat Sujud dan menerima Darsan dari Guru Suci Sri Sri Ravi Shankar.
Mungkin apa yang dapat kami tuliskan disini bagaikan setetes air dari luasnya lautan kebahagiaan yang kami rasakan tapi tentu makna yang terkandung sudah merupakan suatu luapan perasaan kami tatkala kami dapat menyentuh kaki Beliau. Rasa haru, bahagia, tidak percaya dan seribu perasaan lain mengalir begitu saja dalam pikiran kami, bahkan sebagai seorang yang baru belajar menekuni sepiritual kami sampai mengabaikan seberapa dasyat Energi Positif yang mengalir kedalam tubuh kami tatkala kami sujud di Kaki Beliau. Mungkin kedengarannya sangat konyol tapi memang dihadapan Beliau kami tak lagi mempunyai harapan harapan yang tadinya kami ingin sampaikan ataupun hasrat yang tadinya ingin merasakan getaran getaran Energi dari seorang Guru Suci seakan lenyap, yang ada hanyalah kepasrahan.. ya hanya itu, tidak lebih.
Dari pengalaman kami sekeluarga dapat sujud dan menerima darsan dari Beliau yang paling dapat diungkapkan adalah perasaan bahagia. Itu yang terungkap dari Anak saya yang masih kecil kecil yang belum mengenal apa itu Energi atau dari istri saya yang hanya tahu satu atau dua doa sehari-hari ataupun dari saya sendiri yang baru kemarin sore belajar kearah sepiritual. Tentu bukan suatu kebetulan sepulang dari Sujud di Kaki Guru Ji kami sekeluarga tidak dapat memejamkan mata. Wajah Beliau serta senyum yang selalu terlihat menghiasi setiap tutur kata Beliau selalu terbayang dan itulah kebahagiaan kami. Anak saya yang paling besar juga mengatakan kenapa Guru Ji mampu senyum terus seperti itu dan senyum itulah yang paling Ia sukai. Lalu Anak saya yang paling kecil mengungkapkan rasa kantuknya seakan hilang begitu ketemu dengan Guru Ji dan senyuman Beliau membuatnya sangat senang.
Pada hari-hari selanjutnya saya selalu merenungi tentang kejadian-kejadian tatkala kami sekeluarga menerima Darsan Guru Ji. Tanpa saya sadari saya teringat ketika pertama kali saya mengenal Maruti Suta dan itulah langkah awal saya mengenal hakekat berKetuhanan yang sebenarnya. Dari tuntunan Guru Besar Padepokan Maruti Suta saya akhirnya melangkah kejalan Spiritual dan tentu atas jasa Beliaulah kami sekeluarga akhirnya mendapatkan Darsan dari Guru Ji. Bagi kami tidak perlu lagi berpikir apa apa lagi, kami hanya perlu menjalani sesuatu yang telah kami jalani dengan baik. Kami sekeluarga yakin semua ini adalah panggilan dari Bhagavan. Kami hanya harus lebih sering-sering menoleh ke arah Bhagavan, siapa tahu beliau memanggil kami untuk mendapatkan Darsan beliau. OM SAI RAM… JAY GURU DEV… JAY MARUTI SUTA…
Pengalaman ini kami ungkapkan untuk mengenang kebahagiaan kami sekeluarga mendapatkan Darsan dari Guru Ji.Denpasar, 24 Mei 2008

Sila Tentang Guruji :
Pengalaman yang tak akan terlupakan

Siang itu saya ditelepon seorang teman dan mengabarkan saya kalau guru dan padepokan kami diundang untuk datang ke sebuah acara spiritual yang akan dipimpin oleh seorang Guru suci dari India, yang namanya Sri Sri Ravishakar, yang akan dilaksanakan di daerah Nusa dua yaitu di Garuda Wisnu Kencana (GWK). Jujur, nama itu masih sangat asing di telinga saya karena memang saya sebelumnya tidak pernah mendengar ataupun membaca tentang nama itu. Tapi entah karena apa hati saya langsung begitu semangat menyambut undangan itu dan dengan segera saya menginformasikan ke guru saya. Sejak saat itu pehatian saya mulai tercurah untuk acara tersebut. Dan saya baru tahu wajah fisik dari Guru suci itu dari brosur yang ada dalam undangan acara tersebut. Kesan pertama begitu melihat wajah Guru itu, saya hanya merasa kalau dari sinar wajahnya, tatapan matanya yang teduh, orang ini bukan orang sembarangan. Hati saya makin tidak sabar untuk segera datang ke acara tersebut.
Dan tibalah pada hari yang saya tunggu tunggu,yaitu pada hari Sabtu, 14 April 2007, bertepatan dengan hari Raya Saraswati. Kami rombongan beberapa mobil berangkat dari Denpasar menuju ke GWK. Sampai disana, begitu memasuki areal Lotus Pond, dari kejauhan saya sudah melihat persiapan sebuah ritual upacara tradisi India yang biasanya hanya saya lihat di Televisi. Saat itu yang saya rasakan adalah terharu,senang dengan apa yang ada di depan saya. Dengan jelas saya dengar bait bait mantra veda yang dichantingkan oleh pandit pandit dari India, yang logat dan intonasi nadanya tentu saja sangat berbeda dengan yang biasanya saya dengar. Vedic chanting seperti ini sebelumnya saya hanya dengar dari kaset atau cd, dan sekarang saya langsung medengarnya. Suasana seperti ini makin membuat saya seperti bukan berada di Bali tapi seperti berada di India. Saat itu terlintas dalam benak saya,” Kapan ya saya bisa pergi ke India dan melihat ritual upacara seperti ini? Bagaimana ya rasanya jika berada di India? Pertanyan pertanyaan itu tiba tiba muncul dalam pikiran saya. Dan saya hanya berdoa dan berharap, mudah mudahan suatu saat nanti saya benar benar bisa pergi ke India. Lamunan saya itu tiba tiba terhenti, dari kejauhan saya melihat seseorang dalam jubah putih dengan rambutnya yang tergerai sampai dibawah bahu. Saya langsung teringat dengan foto seorang wajah yang ada dalam brosur acara di GWK ini. Saya bergumam dalam hati,” Oh ini Guru suci itu…..Orang orang disekitar saya sudah mulai “ribut”. Serta merta saya mencakupkan tangan didada dan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian saya buka mata dan pandangan saya terus tertuju terhadap sosok yang sangat agung itu. Tatapan mata saya terus tertuju kemanapun Guru itu melangkah, saya tidak mau kehilangan sedetikpun untuk melihat apa saja yang dilakukan oleh Guru itu di atas panggung. Makin haru saya rasakan, tanpa sadar air mata pun menetes. Saya tidak tahu entah karena apa, apa yang saya rasakan sekarang saya tidak mengerti, yang jelas saya hanya sangat haru, senang dan sangat bahagia, itu saja yang bisa saya ungkapkan.
Dengan seorang teman, saya berusaha untuk mendekat ke panggung sehingga saya bisa lebih mudah untuk melihat wajah Beliau. Tapi tetap saja saya merasa kurang puas. Ada keinginan yang kuat untuk lebih dekat Beliau dan ada keinginan yang mungkin saat itu saya anggap sebuah hayalan, ya saya menghayal,” Alangkah senangnya jika bisa sujud di kaki suci Beliau.” Bagaimana ya senangnya jika bisa sujud?’, Bagaimana ya rasanya jika sampai berbicara langsung dengan Beliau?” Saya menghayal lagi. Saya minta kepada teman disamping yang kebetulan membawa kamera digital untuk mengambil foto Close up Beliau.
Sampailah pada suatu acara dimana beberapa orang yang berpakaian putih putih yang duduk di atas panggung secara bergiliran satu persatu bisa sujud di kaki Beliau dan dikalungkan bunga serta sebuah selendang. Tapi ada satu hal yang saya sayangkan, ada dari mereka yang tidak sujud, padahal bagi saya itu adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga. Selama proses itu,saya hanya berpikir,” beruntung sekali orang orang itu, mendapat kesempatan sangat langka bisa sujud di kaki seorang Guru suci”.
Akhirnya sampailah pada acara penutupan dimana Beliau turun dari panggung dan berjalan menyisir panggung kecil panjang, sambil memercikkan air suci/tirta dan menabur naburkan bunga bunga ke kerumunan orang orang yang berjejal di pinggir panggung. Saya sudah putus asa, karena jarak saya cukup jauh dari panggung kecil itu, Tapi saya dan teman itu berusaha untuk mengejar mencapai panggung. Tapi saya belum seberuntung mereka yang mendapat percikkan tirta. Saya dapat mencapai panggung dan tangan saya hanya terkena kibasan angin dari jubah beliau. Saya tetap bersyukur karena masih dapat sedikit bunga yang beliau taburkan. Dan juga saya mendapat serbuk kuning dari ritual upacara yang diadakan diatas panggung,yang sampai sekarang masih saya simpan. Setelah itu kami pun pulang sambil bercerita pengalaman kami masing masing selama acara tadi. Kami pulang dengan kenangan indah yang sudah tertanam di hati kami masing masing.
Sejak saat itu saya mulai mencari tahu tentang beliau, entah itu dari baca baca buku tentang beliau ataupun bertanya ke guru saya ketika ada kegiatan shatsang di lingkungan saya. Saya mulai tahu kalau Beliau dipanggil dengan sebutan Guruji.
Dua hari setelah acara di GWK itu, tepatnya hari Selasa 17 April 2007, saya mendapat kabar gembira dari guru saya, bahwa Guruji akan memberkati suatu tempat di daerah Nusa Dua tepatnya di Pulau Besar,dimana ada rencana untuk dibuat patung Khrisna di tempat tersebut. Dan guru saya menjadi salah satu bagian dari rencana itu. Oleh sebab itu, beberapa dari kami termasuk saya di dalamnya mendapat kesempatan untuk ikut dalam acara tercebut.
Kamipun berangkat menuju ke sebuah hotel di daerah Sanur, tempat Guruji menginap. Seorang teman yang dekat dengan guru saya, mengajak kami untuk menunggu di luar kamar Guruji. Kami berdiri berjajar di pinggir lorong hotel untuk menyambut Beliau. Dan tiba tiba ada suasana yang sangat tidak bisa saya ungkapkan, Beliau keluar dari kamar dan berjalan di depan kami kira kira 30 cm jaraknya dari kami. Beliau melintas didepan kami dengan sebuah senyum yang bagi saya sangat menawan dan memikat hati siapa saja yang melihatnya. Kami semua mencakupkan tangan di dada sambil terus tersenyum. Ketika beliau melintas tepat di depan saya, saya merasakan suatu kebahagiaan yang amat sangat, saya sampai merinding terkena kibasan jubah Beliau. Beliau kemudian turun ke lobby dan kami menyusul dari belakang. Rombongan pertama yang bersama Guruji sudah masuk lift. Kami dengan beberapa yang lain masih menunggu. Rasanya sangat lama sekali menunggu lift giliran kami, Kami tidak sabar lagi dan akhirnya kami turun dengan cepat melalui tangga darurat. Cukup membuat kami berkeringat karena kami harus turun ke lantai 1 dari lantai 7. Itu sama sekali bukan halangan bagi kami. Begitu kami sampai dibawah Guruji dan rombongan sudah siap di mobil dan akan segera berangkat ke Nusa Dua. Dengan sigap kami segera ke mobil, karena kami tidak ingin sampai kehilangan jejak Guruji. Tapi apa daya, mobil yang membawa Guruji jauh lebih sigap dari mobil yang kami naiki, kami tertinggal agak jauh di belakang. Mobil yang membawa Guruji sudah melesat jauh di depan kami. Kami berusaha untuk mengejar mobil Guruji, tapi tetap saja kami tertinggal jauh di belakang.
Begitu sampai di lokasi kami segera berjalan cepat untuk lebih dekat ke Guruji. Guruji tepat duduk di depan kami, kami semua bersimpuh di hadapan beliau tapi sayang kami tidak bisa sujud, tidak bisa menyentuh kaki Beliau karena di depan beliau ada sebuah meja yang menjadi penghalang bagi kami. Kami hanya bisa menatap wajah beliau. Acara selanjutnya adalah beliau berjalan makin mendekat ke arah pinggir pantai, kami dari belakang terus mengikuti kemana saja Guruji melangkah. Ada suatu kesempatan dimana Guruji beserta rombongan diam berhenti lama di pinggir pantai, dan diantara kerumunan orang orang itu, di sela sela kaki banyak orang itu, saya bergerak mendekat menuju ke arah Guruji dengan berjalan setengah berjongkok dan membungkuk. Dan akhirnya saya tepat ada disamping kaki Beliau, serta merta saya langsung bersimpuh dan dengan hati tersenyum bahagia saya mulai menaburkan bunga di kaki Guruji yang memang sudah kami persiapkan. Sambil menabur bunga itu, dalam hati saya sujud syukur telah dikasi kesempatan berada dekat di kaki Guruji. Cukup lama saya mendapat kesempatan untuk menabur bunga dan dengan sangat hati hati saya menyentuh kaki Beliau. Bunga yang telah saya tabur itu, saya ambil kembali, dan setelah itu Guruji kembali melangkah. Saya terus mengikuti dari belakang dengan wajah yang berseri seri sambil saya membawa bunga yang sudah mendapat berkah untuk menyentuh kaki Beliau. Selanjutnya Guruji dan rombongan bersiap siap untuk kembali ke Denpasar. Sebelum Guruji masuk ke mobil, ada suatu kesempatan orang orang (yang terlibat dalam rencana proyek patung Krishna itu) yang ada dekat di sekitar Guruji mendapat kesempatan untuk berfoto bersama dengan Guruji. Saya sadar betul, meskipun ada keinginan kuat untuk bisa ikut berfoto dengan Beliau, tapi keinginan itu saya redam segera, karena saya sadar, saya bukan siapa siapa, saya hanyalah orang “kecil” yang kebetulan beruntung yang mungkin punya karma baik, yang akhirnya mendapat kesempatan untuk ikut dalam rombongan ini. Saya kenang kembali saat saat bahagia ketika saya bersimpuh dan menabur bunga dekat kaki Beliau.Itu bagi saya sudah merupakan suatu kesempatan sangat langka yang baru kali ini saya dapatkan.

Kemudian Guruji dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Denpasar. Kami dengan segera menyusul dari belakang. Tapi lagi lagi, mobil yang membawa Guruji jauh lebih lincah dari mobil yang kami bawa sehingga kami sangat jauh tertinggal di belakang. Teman yang mengendarai mobil kami sudah berusaha untuk menyusul mobil Guruji, tapi apa daya, mobil Guruji semakin melaju dengan cepat sampai tidak bisa lagi kami lihat dari kejauhan. Kami berharap seandainya saja bisa terus di belakang mobil Guruji, tentu ada sedikit harapan bagi kami untuk bisa sujud di kaki Guruji ketika Beliau sampai hotel atau paling tidak jika tidak bisa sujud, kami bisa namaskar ketika beliau turun dari mobil. Ketika kami sampai hotel tempat Guruji menginap, kami tidak lagi melihat rombongan (orang orang India) yang tadi ikut bersama Guruji. Suasana sudah sepi. Tapi kami tetap saja mencoba untuk ke kamar tempat beliau beristirahat. Kami tahu, mungkin kalau dilihat secara fisik harusnya kami mengerti kalau Guruji sudah waktunya untuk beristirahat dan tidak seharusnya kami “mengganggu” Beliau. Tapi keinginan dan kerinduan kami untuk bisa sekedar sujud walau hanya beberapa detik begitu kuat. Atas arahan guru saya, saya mencoba untuk mohon ijin bertemu dengan Guruji, minta ijin kepada seseorang yang ada didalam kamar Guruji. Setelah berbicara sebentar dengan orang itu, akhirnya kami sadar, mungkin belum waktunya bagi kami untuk bersujud dihadapan Guruji. Orang itu mengatakan kalau Guruji sedang beristirahat. Kami kemudian turun ke lobby. Dan di lobby kami bertemu dengan seorang teman yang memberitahu kami bahwa besok Guruji akan ke bandara jam 7 pagi. Tentu saja kami sangat senang dengan berita itu,karena bagi kami itu adalah suatu harapan besar untuk bisa bertemu lagi dengan Guruji. Dan akhirnya kami pun pulang dengan perasaan sedih karena tidak bisa sujud sekaligus juga merasa senang, punya semangat baru karena ada harapan besar untuk bisa sujud ke Guruji. Selama dalam perjalanan, sebagai penghibur hati kami yang sedih, kami pun bercerita tentang apa saja yang kami alami selama perjalanan tadi. Tapi kami rasakan betul ada suatu keyakinan kuat bahwa besok kami akan bisa menyentuh kaki Beliau yang suci.
Keesokan harinya, kami sudah bersiap siap sejak pukul 5 pagi di hari. Kami menyiapkan air, bunga dan buah untuk kami mohonkan blessing di Guruji. Yang kami sesalkan saat itu, kenapa kami tidak mempersembahkan sesuatu untuk Guruji? Kenapa kami hanya memikirkan sesuatu untuk kami mohonkan blessing ke Guruji? Dalam pikiran kami saat itu, kami ingin mempunyai sesuatu yang di blessing Guruji untuk kemudian bisa kami bagi bagikan kepada orang orang sekitar kami.
Hari itu hari Rabu tanggal 18 April 2007, kebetulan 5 hari kemudian yaitu tanggal 23 April 2007, adik kami Radha akan berulang tahun. Sudah direncanakan bahwa sujud ke Guruji kali ini adalah juga sekalian mohon berkat untuk adik kami Radha. Kami berangkat juga dengan adik kami Prabha yang masih berumur 2 tahun. Kemudian kira kira pukul 05.30 wita kami berangkat ke Hotel di wilayah Sanur tersebut dan tiba disana kira kira pukul 06.15. Kami langsung menunggu di lobby hotel. Kami sudah siap siap dengan persembahan di tangan kami masing masing. Setelah menunggu beberapa lama dengan harap harap cemas, tiba tiba Guruji muncul dari arah samping lobby hotel. Bergegas kami mendekat dan langsung bersimpuh di hadapan Beliau. Saya segera menyentuhkan dahi saya di kaki suci Beliau kemudian mengangkat tangan saya yang berisi sedikit buah. Guruji saya lihat menyentuh persembahan saya dengan tangan Beliau yang suci. Juga saya lihat Guruji menyentuhkan tangannya pada persembahan bunga dan air yang di bawa oleh kakak saya. Saat saya sujud itu, dalam hati saya terus berdoa sujud syukur dan ucapan terima kasih yang dalam saya tujukan kepada Tuhan saya, karena saya sudah diberkati dengan bisa berada dekat di kaki Guruji. Menurut salah seorang teman yang ada dibelakang kami, katanya ketika kami sujud itu, Guruji membelai belai kepala saya, adik Prabha dan adik Radha. Mendengar hal itu, hati saya makin sangat bahagia karena beliau berkenan menyentuhkan tangan suci Beliau di kepala saya. Kala itu saya hanya mendengar Guruji berkata,” very good……very good….”.
Setelah itu ada saat dimana Guruji tepat ada disekeliling kami, dan kami semua bersimpuh dekat kaki Beliau. Tidak bisa kami ungkapkan rasa yang kami rasakan saat itu, yang jelas kami merasa sangat bahagia, itu saja.
Setelah itu kami mengantar keberangkatan Guruji ke bandara sampai Beliau naik ke mobil dan pelan pelan hilang dihadapan kami. Masih tergambar dengan jelas dalam memory saya bagaimana Guruji ketika sudah ada di mobil, Beliau melambai lambaikan tangannya ke arah kami dengan senyumnya yang membuat hati setiap insan pasti luluh. Kami membalas lambaian tangan suci itu dengan mencakupkan tangan di dada sambil terus tersenyum memandang ke arah Beliau. Kami melepas keberangkatan Guruji ke bandara dengan hati yang diliputi oleh rasa bahagia yang mendalam. Selamat jalan Guru kami semua, Guruji…..Jai Guru Dev…

Beberapa hari setelah mendapat Dharsan dari Guruji, mungkin karena terus memikirkan Beliau, atau mungkin karena kerinduan yang dalam untuk selalu berada dekat Beliau, suatu malam saya bermimpi (seperti yang sudah saya ceritakan kepada guru saya). Dalam mimpi itu, entah dimana tempat itu, seperti dalam suatu ruangan, saya duduk berhadap hadapan dengan Guruji dan terlibat dalam suatu pembicaraan, entah itu pembicaraan apa,saya juga tidak tahu. Saat itu yang jelas saya ingat adalah Guruji berbicara sambil terus tersenyum dan Guruji membiarkan tangan saya untuk menyentuh nyentuh kaki Guruji. Setelah itu saya tidak ingat lagi apa kejadian selanjutnya. Yang pasti ketika saya terbangun keesokan harinya, saya langsung ingat tentang kejadian dalam mimpi itu. Saya ceritakan mimpi saya itu kepada guru saya dan guru saya berkata,” ya, bisa jadi itu akan terjadi”. Dalam hati saya hanya berharap, mudah mudahan suatu saat saya mendapat kesempatan dekat dengan Guruji seperti dalam mimpi saya itu. Mudah mudahan………
Waktu terus berlalu dan kami pun terus berusaha mencari tahu tentang Guruji. Dalam shatsang rutin dilingkungan kami pun, guru kami pasti saja ada membahas tentang kemuliaan Beliau. Kami semua mendengarkan dengan seksama setiap ada cerita tentang Beliau. Kami kemudian tahu kalau Guruji mempunyai sebuah ashram yang ada di Bangalore, daerah India Selatan nan jauh disana. Kami juga tahu kalau Guruji lahir pada tanggal 13 Mei 1956 di Papanasam,Tamil Nadu, India Selatan.
Makin lama makin kuat dalam hati kami, terasa ada kerinduan yang mendalam untuk selalu berada di dekat Beliau. Terbersit keinginan kami untuk bisa sampai di ashram Beliau. Mulai saat itu kami selalu saja membahas kalau kami sangat ingin bisa sampai di negeri Bharat, negerinya para guru suci.
Sampai suatu ketika tercetus ide dari guru kami untuk mengajak beberapa dari kami ke India. Sungguh sebenarnya di luar kemampuan saya untuk bisa sampai ke India. Dengan konsidi keuangan yang pas pasan,tentu tidak mudah bagi kami,khususnya saya, untuk bisa sampai di India. Tapi atas dorongan dan saran dari guru saya, dengan hati mantap saya putuskan untuk ikut dalam rombongan ke India itu. Kami pun mulai melakukan persiapan terutama menyiapkan bathin untuk pergi ke negeri Bharat.
Setelah melakukan persiapan, diputuskan bahwa kami akan berangkat ke India pada tanggal 26 Juni 2007 hari Selasa yang bertepatan dengan hari Penampahan Galungan dan kami akan kembali di Bali tanggal 10 Juli 2007. Awalnya rencana kami ada 2, yaitu pertama kami akan pergi ke Ashram Prashanti Nilayam untuk melakukan sadhana di beberapa kuil yang ada disana, kemudian kami akan ke ashram Guruji di Bangalore. Kami sangat berharap sekali untuk bisa ke ashram Guruji pada akhir perjalanan kami. Tapi karena suatu hal kami tidak bisa ke ashram Beliau. Kami pun akhirnya berpikir, mungkin belum ada karma baik kami untuk bisa sampai di ashram Beliau di Bangalore. Mudah mudahan suatu saat nanti kami mendapat kesempatan untuk sampai di ashram Beliau.
Kami tiba kembali di Bali dengan selamat dengan masih membawa harapan untuk bisa kembali lagi ke tanah suci Bharat.
Waktu terus berlalu, tepatnya 6 bulan kemudian, kami kembali berencana untuk ke tanah suci India. Kami berencana berangkat hari Sabtu tanggal 19 Januari 2008 dan tiba lagi di Bali hari Senin tanggal 28 Januari 2008. Kali ini rencana kami sama yaitu ke Ashram Prashanti Nilayam kemudian dilanjutkan ke ashram Guruji di Bangalore. Kali ini kami lebih yakin kalau kami akan bisa sampai di ashram Guruji di Bangalore.
Setelah melakukan serangkaian ritual di Ashram Prashanti Nilayam, akhirnya hari Sabtu sore tanggal 26 Januari 2008, tibalah kami di ashram Guruji di Bangalore. Sebelum berangkat saya sempat buka website untuk mencari informasi tentang ashram Guruji. Saya melihat di website ada image berupa ashram yang sangat besar dan megah. Dan ternyata apa yang saya lihat hanya di layer komputer sekarang benar benar nyata ada di hadapan saya. Dari kejauhan bangunan itu memang sangat terlihat megah. Dan setelah melewati proses registrasi yang cukup panjang akhirnya kami mendapat kamar di ashram Guruji untuk menginap selama semalam. Dan sungguh merupakan berita gembira bagi kami, karena seorang wanita India asli yang ada di meja receptionist mengatakan kepada kami bahwa hari ini akan ada satshang bersama Guruji. Dan satshang tersebut akan berlangsung pukul 19.30 waktu setempat. Sedangkan kami baru selesai proses registrasi pukul 18.30. Ditambah lagi jarak dari tempat kami registrasi ke tempat diadakannya satshang ternyata cukup jauh. Guru kami memberi instruksi kalau kami tidak punya banyak waktu lagi untuk santai santai karena jadwal satshang sebentar lagi. Begitu kami sampai di kamar cepat cepat kami bersiap siap untuk acara satshang tersebut. Lingkungan ashram ini masih asing bagi kami, tapi kami berusaha untuk “menguasai” wilayah ini. Berbekal peta yang berupa catatan kecil yang diinformasikan oleh wanita India tadi, kami mencari lokasi diadakan satshang itu. Akhirnya kami menemukan tempat tersebut, suatu bangunan yang sangat megah dan agung yang bernama Vishalakshi Mantap. Begitu kami memasuki ruangan besar tersebut, sudah banyak orang dengan beraneka warna kulit duduk di tempat tersebut. Saat itu kami lebih banyak melihat orang bule daripada orang India aslinya. Kami pun mencari tempat duduk di tengah tengah, posisi yang menurut kami sangat pas untuk melihat Guruji karena satu garis dengan posisi kursi yang menjadi tempat duduk Guruji. Saat itu satu hal yang ada dalam pikiran saya,” Apa yang harus saya lakukan sekarang? Bagaimana caranya supaya hari ini bisa sujud di kaki Beliau?” Siapa yang harus dicari sekarang? Kami benar benar sempat kebingungan sejenak. Waktu kami hanya 1 malam di ashram Beliau, kalau tidak malam ini ada kesempatan, maka akan sulit bagi kami untuk mendapa kesempatan satshang lagi. Guru saya menyuruh saya untuk mencari informasi supaya bisa diterima Guruji. Saya hanya menjawab,” ya, tapi sambil terus berpikir. Saya masih duduk dengan tenang sambil mengamati suasana yang ada, tapi dalam pikiran saya sedang berkecamuk memikirkan bagaimana cara mencari informasi supaya bisa bertemu Beliau. Saya juga terus berdoa dan memohon kepada Tuhan saya, semoga diberikan jalan untuk bisa dekat dengan Guruji.

Akhirnya pandangan saya tertuju kepada seorang gadis India yang ada di panggung. Saya terus amati kemanapun dia melangkah. Dari apa yang dia lakukan di atas panggung saya mengira ngira saja kalau dia sedang seva untuk persiapan acara satshang ini. Dia sibuk menyiapkan kalungan bunga untuk ditata di kursi Guruji. Saya menemukan waktu yang tepat ketika dia duduk di pinggir panggung. Saya mulai bertanya dan kami pun berkenalan, namanya adalah Rupali. Dia sangat ramah dan dengan sabar dia menjelaskan kepada saya bagaimana cara untuk bertemu Guruji. Dia memberitahu dimana biasanya Guruji akan lewat untuk memasuki ruangan tersebut. Saya terus berdoa kepada Tuhan saya, semoga Guruji berkenan menemui kami semua. Saya menunggu dengan penuh harap. Rupali juga menjelaskan kalau nanti akan ada beberapa orang yang menjadi Security Guruji yang akan ada di sekitar Guruji. Sebelum Rupali meninggalkan saya untuk melanjutkan tugasnya saya masih ingat dia berpesan dengan sangat ramah, dia bilang, “ Good Luck”. Pada saat itu ada 1 orang gadis India juga dari Bangalore yang mempunyai tujuan yang sama dengan kami yaitu ingin menemui Guruji. Saya juga berkenalan dengannya, namanya Vijayalaksmi. Seorang gadis India hitam manis yang juga sangat ramah. Meskipun kami baru pertama kali bertemu tapi kami sudah terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Ketika itu hanya kami berdua yang menunggu Guruji di sekitar tempat yang akan dilalui Guruji nantinya. Lantunan lagu rohani terus terdengar dengan sangat indah karena dinyanyikan oleh gadis India asli yang memang mempunyai suara sangat merdu. Tidak lama kemudian orang orang pun mulai berdiri dan pertanda bahwa Guruji akan segera hadir di tempat tersebut. Dan memang benar saya sudah melihat Guruji datang di hadapan saya dan dikelilingi oleh beberapa orang yang berbadan tegap. Saya segera berlutut dengan Vijayalaksmi itu untuk menunggu Guruji melintas di hadapan kami. Suasana menjadi sangat ramai dan saya hanya sempat berkata bahwa kami dari rombongan dari Bali dan Guruji menjawab dengan senyum sambil mengambil amplop yang ada di tangan saya yang berisi sebuah surat untuk Guruji. Sedangkan Vijayalaksmi saya tidak melihatnya lagi karena orang orang sudah “sibuk” untuk mencari tempat duduk.
Setelah itu saya kembali ke tempat duduk semula dan menunggu dharma wacana dari Guruji. Saat itu acaranya adalah tanya jawab dimana orang orang yang ada dalam ruangan itu boleh mengajukan pertanyaan ke Guruji dan Beliau akan menjawabnya. Saya sempat mengabadikan beberapa foto Guruji ketika itu. Selanjutnya Guruji memimpin meditasi. Di akhir acara Beliau merayakan beberapa orang yang berulang tahun pada hari itu. Beliau sangat welas asih berkenan memotong kue dan memberi berkat kepada orang orang yang berulang tahun itu. Kemudian Beliau saya lihat naik ke tangga atas, kemudian tidak kelihatan lagi, Beliau entah dimana. Setelah itu kami berusaha menyusul. Waktu itu tiba tiba ada bunga berjatuhan dari langit langit gedung itu dan kami pun mengambilnya. Setelah itu dalam hati saya berpikir, “Sekarang bagaimana ini?” Bagaimana cara kami supaya bisa bertemu Beliau untuk sujud?” Dalam keadaan bingung dan setengah putus asa, tiba tiba Vijayalaksmi sudah ada disamping saya dan dia berkata dengan ramah,” Sila, If you want to meet Guruji, I let you know secretary of Guruji, come on!”. Sambil menggandeng tangan saya, Vijayalaksmi mengantar kami ke kantor tempat sekretarisnya Guruji bertugas. Sampai di sebuah kantor kami ditemui oleh seorang gadis India yang sangat lembut dan halus tutur katanya, sesuai dengan parasnya yang sangat cantik dan ayu. Saya berusaha mengutarakan maksud kami untuk bertemu dengan Guruji dalam Bahasa Inggris yang kacau balau, tapi ternyata dia bisa mengerti maksud saya. Dia kemudian masuk sebentar dan menyuruh kami menunggu. Tidak lama kemudian dia datang lagi dan mengatakan kepada kami sebuah kalimat yang membuat hati saya sangat senang. Dengan lembut dia bilang,” Come on, follow me!”. Vijayalaksmi pun sebenarnya pada saat yang sama dengan kami tadi, juga mengutarakan keinginannya. Dari pembicaraan yang saya dengar, Vijayalaksmi belum mendapat kesempatan hari itu untuk bertemu dengan Guruji dengan alasan karena dia dari Bangalore, mungkin sekretaris Guruji lebih “kasihan” dan akhirnya mengutamakan kami yang lebih jauh dan hanya punya waktu 1 malam di ashram.

Dalam hati kami sebenarnya merasa tidak enak, Vijayalaksmi sepertinya berkorban untuk kami. Padahal dia yang telah menunjukkan kami jalan untuk bertemu sekretaris Guruji tapi dia yang ternyata belum bisa bertemu Guruji. Sebelum dia pulang, saya minta maaf kepadanya dan sekaligus mengucapkan terima kasih atas bantuannya.

Saya sampai lupa menanyakan nama sekretaris Guruji itu, Ketika sudah mau pulang saya baru tahu kalau namanya adalah Seema Khana. Selanjutnya kami menyusuri sebuah jalan yang tidak begitu banyak dilalui oleh orang orang. Akhirnya kami sampai di suatu ruangan yang sangat berbeda auranya, rasanya hati sangat damai berada di tempat itu. Nama tempat itu adalah Kutir, merupakan tempat pribadi Guruji. Sampai disana kami melihat beberapa orang yang sudah duduk di lantai lebih awal dari kami. Kami melihat ada kursi yang sangat agung dan kami yakin itu adalah kursi Guruji. Kami memilih duduk di pinggir kanan kursi itu. Setelah menunggu beberapa saat, muncullah sesosok berjubah putih yang kami rindukan, ya…Guruji sudah ada di depan kami sekarang. Sambil tersenyum Beliau kemudian duduk di kursinya dan bertanya kepada semua yang ada di sana,” Are you happy?” serentak kami menjawab “Yes…..” Kemudian salah satu dari orang orang itu bicara dan mengajukan pertanyaan kepada Guruji. Saya menoleh ke arah Seema dan dia memberi isyarat untuk kami menunggu dulu sampai Guruji bertanya kepada kami. Tidak lama kemudian Guruji menoleh ke arah kami sambil tersenyum dan berkata,” From Bali? When did you arrive?” Kami pun menjawab bahwa kami baru tiba hari itu dan besok kami akan kembali ke Bali. Guruji kemudian melanjutkan kalimatnya,” I’ll come to Bali next April”. Kami sangat senang mendengar bahwa Guruji akan ke Bali lagi. Ada 1 kalimat yang kami ingat bahwa Guruji mengatakan “Blessing for everybody” Kemudian Guruji tiba tiba berdiri dari kursinya, kami pun pelan pelan berdiri. Saat itu saya kebingungan selanjutnya untuk sujud bagaimana? Saya ke belakang mencari Seema dan bertanya kepadanya, Seema tersenyum tapi kemudian ada seseorang yang juga dari tadi di ruangan itu, dia mengatakan kepada saya,” go now fast!” Saya langsung mendekati Guruji dari arah yang berbeda. Sesaat sebelumnya saya sempat lihat salah satu rombongan kami sudah sujud. Kemudian saya pun sujud di kaki Guruji. Saat itu Guruji sedang berdiri dan ada yang meminta untuk berfoto bersama Guruji. Guruji menyetujuinya, tapi ada kejadian yang lucu saat itu, tiba tiba Guruji menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang serentak membuat semua orang di ruangan itu tertawa. Ya, Guruji memang jenaka dan selalu membuat hati orang orang yang berada di dekatnya merasakan kebahagiaan yang tak terungkapkan. Kemudian spontan saja muncul keinginan saya untuk meminta berfoto bersama dengan Guruji. Pelan pelan saya berdiri dan lebih mendekat ke Guruji dan dengan hati hati saya mengatakan,” Guruji, do you mind to take of picture with us, the group from Bali? Sungguh senang rasanya mendengar jawaban Guruji. Dengan lembut Beliau berucap,” Come, come…” Dengan senyum penuh kebahagiaan spontan kami semua mendekat ke arah Guruji. Kami semua bersyukur atas anugerah ini. Setelah itu saya mendekati Seema dan mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya. Seema berkata,” How do you feel? So lucky you are”. Saya tidak henti hentinya mengucapkan terima kasih kepada Seema atas bantuannya sehingga kami mendapat Dharsan yang sangat istimewa dari Guruji meskipun kami mempunyai waktu yang amat singkat singkat. Setelah itu kami lihat Guruji masuk ke sebuah ruangan dan kami pun meninggalkan Kutir dengan penuh kebahagiaan.
Besok sorenya kami mendapat kesempatan lagi untuk mengikuti satshang dari Guruji. Ketika menunggu kehadiran Guruji, saya bertemu lagi dengan Rupali yang sedang seva dalam persiapan satshang itu. Saya juga mengucapkan terima kasih kepadanya dan dia pun pun mengatakan hal yang sama,” So lucky you are”. Shatsang sore itu lebih banyak dihadiri oleh orang India karena memang setiap hari Minggu satshang diperuntukkan untuk orang orang setempat. Dan Guruji pun tidak menggunakan bahasa Inggris,tapi bahasa setempat, katanya bahasa Hindi atau Canada. Guruji sempat bersenda gurau dengan berkata,” For people from foreign this time you can listen my speech just like listening to the music.” Orang orang bule pun semuanya tersenyum dengan gurauan Beliau. Sore itu kami ikut menyanyikan sebuah lagu rohani yang kebetulan kami bisa menyanyikannya. Sore itulah kami terakhir mendapat Dharsan dari Guruji selama kami berada di ashram Beliau.
Setelah Guruji meninggalkan vishalakshi mantap, kami pun cepat cepat melakukan persiapan untuk ke bandara, karena beberapa jam lagi pesawat kami akan take off. Kami meninggalkan Ashram Guruji dengan perasaan bahagia, terima kasih Guru…..Jai Gur Dev……
Tiga bulan kemudian, tepatnya bulan April, kami pun mendapat informasi bahwa Gurji sudah ada di Bali. Guru kami sudah mempunyai suatu rencana untuk memberikan kesempatan kepada kami semua yang ada dalam shatsang, agar bisa sujud di kaki Guruji. Hari itu Sabtu, 19 April 2008 beberapa dari kami sengaja menginap di tempat Guru menginap. Sore itu kami tahu bahwa Guru akan pergi ke Art Centre untuk memberikan Dharma Wacana. Kami menyiapkan seikat bunga untuk Guruji. Sore itu sekira jam 5 sore, saya dan adik Radha dengan membawa rangkaian bunga ke kamar Guruji. Sampai depan kamar, kami ditemui oleh seorang wanita India, katanya Guruji sedang tidak ada. Saya mengatakan bahwa kami hanya ingin mengirim bunga ini untuk Beliau dan saya minta tolong kepadanya untuk menyampaikannya. Bunga itu diterima oleh wanita itu dan saya kembali ke bawah untuk bergabung dengan teman teman yang lain. Waktu terus berlalu makin sore dan kami tahu bahwa Guruji harus ada di Art Centre jam 7 malam. Paling tidak 1 jam sebelumnya Beliau sudah berangkat. Saya dan beberapa teman yang lain dan ada juga beberapa anak anak, menunggu di suatu tempat kira kira jaraknya 10 meter dari kamar Guruji. Jadi kami dapat melihat dengan jelas orang orang yang keluar dari kamar Guruji. Sambil terus berjapa dalam hati kami menunggu kedatangan Guru. Waktu sudah menunjukkan jam 6.20 sore, tapi belum ada tanda tanda bahwa Guruji akan keluar dari kamar Beliau. Suasana pun sudah sepi karena orang orang sudah berangkat ke Art Centre. Kami semakin tidak sabar. Akhirnya kira kira jam 6.50 menjelang malam Guruji keluar dari kamar Beliau diikuti oleh 2 orang wanita. Serentak kami bersimpuh di lantai ketika Guru ada dihadapan kami. Kami pun sujud di kaki Beliau. Beliau bertanya kepada kami,”Will you come there to join the program?” Kami menjawab,” Yes Guruji….” Setelah itu Guruji menyuruh 2 wanita tadi untuk kembali ke kamar beliau untuk mengambil prashadam ( berupa kue India). Tapi rupa rupanya 2 wanita itu tidak menemukan kue tersebut, akhirnya Guruji meyuruh kami mengikuti ke kamar Beliau sambil berkata,” Come..come…..”. Kami mengikuti Guruji dari belakang. Sampai di kamar Beliau Guruji membagi bagikan kue kepada kami. Dengan hati hati saya berkata,” Guruji, my family are downstair, they can come here?” Dengan lembut Guruji berkata,” I am going down….” How many they are?” give these to them.” Guruji memberikan lagi kami kue untuk dibagikan kepada saudara saudara kami yang menunggu di bawah. Kami mengucapkan terima kasih kepada Guruji dan juga kepada 2 wanita itu. Dengan hati yang sangat bahagia kami melihat Guruji memasuki lift untuk segera turun. Beliau tersenyum dengan manis ketika akan turun. Begitu Guruji turun cepat cepat kami pun turun dengan lift yang lainnya. Dari handphone yang saya aktifkan loudspeakernya, kami tahu kalau Guruji juga berkenan memberikan kesempatan kepada saudara saudara kami untuk sujud di kaki Beliau. Kami sangat senang mendengar suara dari HP, Jai Guru Dev…Jai Guru Dev….Sampai di bawah kami masih sempat melihat Guruji ketika berjalan untuk selanjutnya naik ke mobil yang akan membawa Beliau ke Art Centre. Kami semua tersenyum bahagia atas berkat ini, terima kasih Guru…Jai Guru Dev….
Sesaat setelah itu kami semua berkumpul di lobby dan saling bercerita tentang apa yang kami alami barusan. Guru saya memberi instruksi kepada kami untuk menyiapkan beberapa persembahan untuk Guruji. Kami pun segera menyiapkan beberapa buah buahan dan bunga. Saat itu guru kami memberi instruksi kepada beberapa dari kami untuk ke Art Centre mengikuti acara Guruji. Sedangkan beberapa dari kami yang lainnya terus menunggu kedatangan Guruji dari Art Centre. 2 1/2 jam setelah itu, kami mendapat kabar bahwa Guruji sudah meninggalkan Art Centre. Dengan segera kami siap siap menunggu beliau di depan lobby dengan bunga yang akan kami taburkan di kaki Guruji. Sekitar jam 10 malam tepat di depan kami berhenti sebuah mobil dan dari dalam muncullah sosok agung yang kami tunggu tunggu. Guruji sudah datang dan kami pun siap siap untuk menyambut Beliau. Beliau berjalan menuju arah kami dan berkenan berhenti sebentar untuk memberikan kami kesempatan menaburkan bunga di kaki Beliau. Pada saat itu kami membawa bunga Cempaka dan Kenanga. Tidak kami sangka, Guruji mengambil bunga Cempaka dan Kenanga tersebut dan mencium ciumnya. Guruji berkata,” What is this?”Guruji bertanya kepada kami Sambil mencium cium bunga Kenanga. Saya kebingungan sendiri, karena saya tidak tahu Bunga Kenanga dalam Bahasa Inggris. Setelah itu sungguh sungguh diluar perkiraan kami, Sambil melambaikan tangannya Guruji berkata,” come…come….all….” Dengan perasaan senang, bercampur shock dan kaget, dengan segera kami mengikuti Guruji dari belakang. Pada saat itu guru saya mendapat kesempatan untuk berada satu lift dengan Beliau. Sampai didepan kamar Beliau, kami disambut oleh beberapa orang India dan mempersilahkan kami untuk masuk ke ruangan Beliau. Kam pun segera duduk dibawah dan mengambil tempat tepat di depan kursi Beliau. Beliau belum ada di hadapan kami. Guru kami memberi instruksi kepada kami untuk melantunkan lagu rohani. Kami sempat menyanyikan sekitar 3 lagu dan menchantingkan beberapa bait Veda, tapi belum kami selesaikan Chanting itu, Guruji sudah ada dihadapan kami dan segera duduk di atas kursi Beliau. Kemudian beliau berkata dengan lembut,”Yes come….come…”Sambil berkata demikian, ditangan Beliau sudah siap kue khas India yang akan dibagi bagikan kepada kami semua. Satu persatu kami semua sujud dan menerima kue dari Guruji. Saat itu sebelum kami meninggalkan kamar Guruji saya hanya sempat mengatakan satu kalimat. Saya berkata,” Guruji, we just want that you are always in our heart” Sambil tersenyum Guruji menganggukkan kepala dan Beliau menjawab,” yes…yes…..”Setelah itu satu persatu kami keluar, sementara dibelakang kami sudah banyak orang asing yang duduk untuk bertemu dengan Guruji.

Kami meninggalkan kamar Guruji dengan perasaan yang sangat bahagia. Kami kembali berkumpul di lobby dan saling bercerita tentang betapa bahagianya kami saat itu. Seperti ingin berbagai kebahagiaan, sambil tersenyum kami mengucapkan sampai jumpa lagi, karena kami akan kembali ke tempat masing masing. Kami rasakan malam itu sangat begitu indah setelah anugerah yang begitu besar yang kami terima dari Guruji. Terima kasih Guru…..Jai Guru Dev…..
Empat hari kemudian,tepatnya hari Rabu, 23 April 2008, adik kami Radha berulang tahun. Guru saya mempunyai rencana untuk mohon berkat dari Guruji pada hari ulang tahun adik Radha. Kami tidak tahu apa Beliau berkenan untuk menerima kami kembali atau tidak, yang jelas kami terus berdoa semoga Guruji berkenan untuk menemui kami. Kali ini dalam rombongan kami cukup banyak orang yang ikut serta sekitar 30 orang.
Untuk Dharsan kali ini, kami mempersembahkan kue tart khusus dan persembahan bunga. Saya secara khusus juga membuat kalung bunga yang sebagian besar tediri dari bunga Kenanga, bunga yang harumnya disukai oleh Guruji, mudah mudahan saja. Dari Denpasar kami berangkat pukul 16.30 wita dan sampai di tempat tujuan 45 menit kemudian. Sampai disana, saya dan beberapa saudara yang lain langsung menuju lorong sekitar kamar guruji. Setelah itu saya bertanya kepada seorang wanita yang berada di kamar Guruji. Saya mendapat informasi katanya Guruji sedang tidak ada di ruangan dan sedang pergi ke suatu tempat. Dan katanya lagi 2 jam kemudian Guruji baru akan datang. Kami sudah bertekad untuk tetap menunggu Guruji. Wanita yang memberikan kami informasi itu, menyarankan kepada kami untuk kembali lagi nanti, karena katanya Guruji akan lama datangnya. Tapi kami tetap bertekad untuk menunggu Guruji sampai Beliau kembali.
Sekitar 30 menit kemudian,kami mendapat informasi bahwa Guruji akan segera menuju ruangan Beliau. Kami sangat senang mendengar kabar itu. Kami pun bersiap siap. Kami duduk berjajar bersimpuh di bawah dan pada saat itu ada sepasang suami istri India yang berinisiatif untuk mengajak kami untuk melantunkan lagu lagu rohani. Dengan khusuk kami semua mengidungkan lagu lagu rohani. Salah satu lagu yang kami kidungkan adalah lagu kesukaan Guruji. Dengan penuh pengharapan, dengan khusuk kami bernyanyi untuk “memanggil” Guruji memohon supaya Beliau segera datang. Sekitar 1 jam, kami terus tanpa henti mengidungkan lagu lagu rohani. Mungkin karena kami memang sangat merindukan kedatangan Guruji, vibrasinya mungkin terasa, sampai sampai ada orang asing yang melihat kami dengan khusuk bernyanyi, akhirnya ikut duduk bersimpuh di sekitar kami. Tidak lama kemudian, lift yang ada di depan kami terbuka, dan muncullah sosok agung yang sangat kami tunggu tunggu kehadirannya. Guruji telah ada dihadapan kami dan seperti kebiasaan Beliau, begitu melihat kami semua, Beliau tersenyum. Hanya diam sebentar dihadapan kami, kemudian Beliau berlalu meninggalkan kami. Sesaat dalam hati saya bingung, dan bercampur sedih, sekarang bagaimana? Tapi kemudian, kesedihan saya lenyap,dari dalam ruangan, wanita yang biasanya mendampingi Guruji melambaikan tangannya sambil berkata ,” Everybody, come on…come…come….” Dengan segera satu persatu kami masuk ke kamar Beliau. Kami semua duduk di bawah dan Guruji duduk di kursi Beliau tepat di hadapan kami. Sesaat suasana hening, kemudian kami berkata,” Jai Guru Dev……Guruji pun menjawab,” Jai Guru Dev…..Dengan hatihati kami pun mengutarakan maksud kami. Kami berkata bahwa kami memohon kepada Beliau untuk memberikan kami sujud di kaki Beliau. Beliau memang sangat welas asih. Dengan sabar Beliau memberikan kami kesempatan untuk sujud satu persatu dan Beliau sudah siap dengan kue (menurut Beliau disebut “manisan”) di tangan Beliau dan kami mendapat masing masing satu manisan. Sambil memberikan manisan tersebut, Guruji bertanya,” Do you go to India sometimes?”Saya menjawab,” Last January we came to your ashram in Bangalore, and we went to Kutir,”. Sambil mengangguk, Guruji berkata,” yah..yah…”. Sebenarnya tanpa kami katakan pun, Beliau pasti sudah tahu bahwa kami sudah pernah diberikan Dharsan di ashram Beliau di Bangalore. Pada saat itu, Guruji berkata,” I’ll come again on November for the program”. Dalam hati saya sangat senang mendengarnya, karena berarti kami akan bertemu lagi dengan Guruji, mudah mudahan…..
Selanjutnya Guruji berkenan berfoto bersama kami semua. Diakhir pertemuan, sebelum Beliau meninggalkan ruangan itu tidak lupa kami mengucapkan Jai Guru Dev……Beliau menjawab,” Jai Guru Dev…..Kemudian berlalu menuju ke suatu ruangan.
Satu persatu kami meninggalkan ruangan itu, dan ada beberapa orang India yang berdiri untuk memberikan salam. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada mereka. Kami pulang dengan hati yang sangat sangat bahagia. Sekali lagi, terima kasih Guru…Jai Guru Dev…………….
Itulah sekilas cerita tentang Pengalaman saya ketika bertemu dengan seorang Guru Suci. Mudah mudahan dalam kesempatan yang lain, saya masih di berkati dengan Dharsan seorang Guru yang suci seperti GURUJI.
Namaste………..

Nyoman Artana :
Berkah Dari Guru….

Didalam kehidupan yang penuh dengan berbagai macam halangan dan hambatan untuk membina kehidupan spiritual. Diperlukan jodoh dan karma baik yang sangat besar untuk dapat menemukan seorang guru spiritual. Dan diperlukan lagi suatu berkah yang luar biasa untuk dapat belajar dan menerima berkah dari guru spiritual yang baik.
Mereka yang belum berjodoh untuk menemukan seorang guru spiritual yang sesuai dengan ikatan batinnya, tentu jangan berputus asa untuk terus berlatih dan mengumpulkan karma baik dengan berbuat baik terhadap sesama. Bagi yang beruntung karena mempunyai guru spiritual yang sesuai, tentunya dapat lebih bersenang hati karena pintu gerbang menuju Pencapaian Sejati telah terbuka lebar-lebar.
Walau telah mendapatkan guru spiritual, setiap mahluk akan berbeda-beda dalam memahami dan membina intisari ajaran dari sang guru. Hal ini disebabkan karena setiap mahluk memiliki ikatan batin, kepercayaan, keyakinan dan karma yang masing-masing berbeda-beda.
Mereka yang telah mendapatkan ajaran dan berkah dari guru spiritual, harus memanfaatkan karma baik tersebut. Janganlah membuang-buang kesempatan yang telah ada, sehingga telah merasa berpuas diri dan berbangga hati hanya dengan mendapatkan berkah dari sang guru. Berkah yang diberikan guru kepada muridnya, untuk membantu dan memperkuat keyakinan sang murid. Janganlah merasa telah cukup hanya dengan menerima berkah dari sang guru.
Berusahalah untuk menjadi seperti guru anda, sehingga anda tidak hanya menerima berkah tetapi dapat memberikan berkah kepada mahluk lainnya. Untuk dapat menjadi seperti guru anda, harus giat berlatih apa yang telah guru anda ajarkan. Pegang ajaran guru, dan berlatihlah ajaran tersebut hingga mencapai tingkat seperti apa yang dimaksudkan oleh guru anda. Ingatlah, Jangan pula hanya meniru apa yang guru anda perbuat, tetapi pahami kesadaran sejati guru anda yang sebenarnya. Hanya dengan berlatih ajaran yang ditelah diberikan, maka berkah seorang guru akan benar-benar bermanfaat.
Kala Saya meraniti ke jalan spiritual, yang saya rasakan sebuah ketakuka akan diri ini, mampukah Saya menjalani dengan latar belakang yang saya punya. Perjalanan hidup saya yang penuh dengan liku liku kehidupan yang tergolong penuh dengan garis garis hitam, Saya seorang penjudi (sabung ayam ) , peminum dan yang lain, khusus yang paling sering Saya lakukan adalah judi sabungan Ayam, Saya merasa puas jika Ayam Ayam yang itu beradu satu sama lainnya , tanpa Saya merasakan bagaimana sakitnya kedua ayam yang beradu, yang saya rasakan hanyalah kepuasan Saya sendiri, tanpa memikirkan yang lainnya. Hingga suatu ketika Saya merasa terpanggil tuk belajar ke jalan spiritual, akhirnya Saya melabuhkan diri saya Kepadepokan Maruti Sutha , Saya mulai mengenal banyak apa itu spiritual, itupun Saya baru mengenal Sebatas kata kata saja, hari terus berjalan tak terasa udah tahun terlewatkan saya ikut disana, dengan bimbingan para Guru Guru ( Pelatih ) Di PMS Saya merasakan hidup ini lebih berarti, betapa bahagianya hati Saya ini, dan saya bersyukur semenjak mendapat bimbingan dari para Guru dan Pelatih di PMS, Saya mulai bisa meninggalkan apa yang telah Saya lakukan khususnya judi sabungan ayam. Hari terus berjalan dan berganti Saya terus mendapatkan bimbingan tuk lebih mengerti arti hidup ini, Betapa banyak yang Saya dapat dari bimbingan itu, Saya yang penjudi sudah bisa menghindari kalo judi itu tidah bagus dan tidak di benarkan oleh ajaran Agama manapun, Saya pemarah / temperamental sedikit sedikit Saya mulai bisa mengendalika dir / berkurang sekarang ini, itu semua berkat bimbingan yang Saya dapat dari Para Guru & Pelatih Di Padepokan Maruti Sutha.
Hingga suatu hari seorang Guru Suci datang dari tanah suci yang jauh di seberang sana ( India ), Saya berkesempatan tuk mendapatkan Darsan beliau, Guru Besar Kami Di Padepokan mengajak Kami Kehadapan Beliau bertempat di Grand Bali Beach Hotel Sanur, Betapa bahagia hati ini Kala melihat Tubuh beliau yang begitu Agung, bahkan sebelum melihat belia hawa yang saya rasakan di depan pintu kamar beliau beristirahat hawanaya terasa sejuk dan membuat hati ini tak bisa tuk berbicara, hanya bisa terdiam dan merasakan betapa hati ini merasa bahagia, dan begitu belia keluar dari tempatnya beristirahat, Saya melihat tubuhnya yang terbalut dengan kain putih yang bersih, dengan pancaran sinar kasih dari tubuhnya mebuat hati ini tmendapatkan kesejukan yang belum pernah Saya rasakan selama ini. Kami beserta rombongan mengikuti beliau hamper setengah hari, hari begitu cepat berlalu sampai beliau kembali ke tempatnya beristirahat kembali. Saya sendiri tak bisa melupakan apa yang telah saya alami selama setengah hari ada di dekat beliau, hati rasanya sejuk dan tenang, yang lainya lagi Saya nggak bisa ungkapnya dengan kata kata.
Sehari setelah ketemu beliau ada hal yang Saya alami, Saya mengalami kecelakaan lalu lintas, kala jalan menuju kantor tempat saya bekerja , satu jari tangan Saya mengalami luka dan patah, Saya terus saja sekejap perasaan saya marah menyalahkan orang tersebut, tapi saya teringat dengan petuah yang Saya terima dari Guru Besar Kami di Padepokan PMS apa yang Saya alami adalah buah karma yang harus Saya terima. Semua itu karena karma dalam diri Saya keluar setelah bertemu dengan Guru Suci ( Shri Shri Rawe Shankar ). Semoga apa yang Saya alami dan yang terjadi pada diri ini, sebagai campug dan pembelajaran buat diri Saya tuk melangkah kedepan, agar lebih bisa mengerti dan memahami hidup ini.
Nyoman Mupu :
Di sini saya ingin berbagi pengalaman saya pada saat sujud di kaki padma H. H. Sri. Sri Ravi Shankar (Guru Ji). Terus terang saya katakan, walaupun ini sangat susah untuk diceritakan pada orang lain, untuk bisa dimengerti karena ini hanya bisa dirasakan dengan perasaan kita masing-masing.
1. Pada bulan 20 April 2007 suatu hari saya dan rombongan Padepokan Maruti Suta Bali yang dipimpin oleh Guru Besar (Pak Kadek) berangkat dari rumah menuju Hotel Grand Bali Beach Sanur dengan perasaan yang berbunga-bunga, untuk ingin bertemu dan bersujud dengan seorang Guru Suci yang sangat terkenal di seluruh dunia. Tapi apa yang terjadi, setelah saya bertemu dan melihat wajah dan mendengar suara yang begitu lembut selalu berkata “apakah kamu bahagia?” Entah kenapa mulut saya terasa terkunci tak kuasa untuk berucap sepatah pun dan air mata saya jadi mengalir keluar terus apa lagi Guru Ji sendiri memberikan saya waktu untuk sujud di kaki padmanya yang begitu agung. Saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Berada di dekatnya, apalagi saya mendapatkan berkah berupa prasadam kue dan buah yang langsung dimakan yang mampu membuat kebahagiaan saya terus bertambah.
2. 19 April 2008
Tidak beda jauh dengan pengalaman saya I, sujud di kaki Padma Guru Ji. Hari Sabtu sekitar pukul 17.00 Wita saya berangkat bersama rombongan Padepokan Maruti Suta Bali menuju Hotel Grand Bali Beach Sanur, setelah berapa lama menunggu di loby hotel dan di depan lif kurang lebih pukul 18.45 Wita, Guru Ji keluar dari dalam lif hotel, begitu pintu lif terbuka kami semua berbaris sambil mencakupkan kedua tangan di dada, begitu Guru Ji melihat kami berdiri semua, Guru Ji berhenti dan memberikan kami waktu untuk bersujud di kakinya dan memberi kami semua berkat sucinya, dan prasadam untuk dibagikan bersama. Tapi saat sujud kedua, saya merasa kebahagiaan saya bertambah karena disini baru pertama kali saya sujud bersama keluarga, istri dan 3 orang anak saya Ria, Maya dan Ghyan Mahesa, apalagi Guru Ji sampai mau memegang kepala anak saya Ghyan Mahesa. Dalam hati saya berkata ini merupakan berkah yang luar biasa dan sulit untuk didapatkan pada saat ini.
Demikianlah pengalaman saya yang pertama dan kedua saat bertemu dan sujud di kaki Padma H. H. Sri. Sri Ravi Shankar.

Keterangan : Pengalaman teman teman Maruti Suta lainnya yang telah menerima dharsan dan berkah Guruji Shri Shri akan di unggah dalam page ini (menyusul)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: