MARUTI SUTA CENTER

Paduan Supranatural dan Spiritual

MEDITASI

PERJUANGAN DALAM MEDITASI

Tasmat sarvesu kalesu,Mam anusmara yudhya ca
Mayyi arpita mano buddhir,Mam evaisyasy asamsayah
(Bhagavad Gita VIII.7)

(Oleh karena itu,pada segala tempat dan waktu
Pikirkanlah Aku senantiasa dan berperanglah engkau
Dengan pikiran dan ketetapan hati yang terpusat hanya padaKu
Tanpa ragu ragu,engkau pasti datang padaKu)

APA YANG TERJADI SELAMA MEDITASI?

Pada fase permulaan latihan meditasi,para praktisi bergulat dalam perjuangan yang melelahkan.Pertama tama mereka berhadapan dengan ketidak nyamanan tubuh akibat pengendalian tubuh selama melakukan asanas tertentu.Pada awalnya mungkin muncul rasa tersiksa apakah karena kaki,pinggang atau mungkin leher terasa sakit,sampai pada munculnya sensasi fisikal lainnya seperti adanya dorongan dorongan tertentu,rasa berputar,kaget dan seterusnya, sampai pada problem air liur atau rasa kering tenggorokan yang cukup mengganggu.Setelah tahap asanajaya tercapai,mereka kemudian mulai berhadapan dengan kecenderungan mentalnya sendiri yang begitu agresif menampilkan gelombang (vrtti) dan gambar gambar menyimpang yang sama sekali tidak diperlukan.Meskipun badan telah diam,gerak pikiran itu tidak pernah berhenti.Bahkan setiap gambar yang muncul (sang “aku”=Vrtti Sarupya) sibuk menjadi komentator dan mungkin mengembangkan skenario kreatif sebagaimana layaknya seorang sutradara sinetron.Aktivitas ini berlanjut terus selama waktu yang tersedia untuk meditasi sehingga tujuan yang diharapkan-pun menjadi buyar.Sebab itu,meditasi akhirnya divonis oleh “praktisi yang pesimis” sebagai 3 jalinan pekerjaan yakni sebagai awal yang menyenangkan (karena adanya motivasi ingin tahu dan ingin mengalami sukacita instan),sebagai proses yang menjemukan (karena sibuk mengurusi “tamu yang tidak diundang” yakni gelombang dahsyat energi negatif pikiran dan gambar gambar mental yang menyimpang) dan sebagai akhir yang “tidak perlu diceritakan”( putus asa,karena tidak mengalami sesuatu seperti yang diharapkan).

Sebab itu,pemahaman umum tentang meditasi sebagai latihan “duduk diam” yang membahagiakan jiwa atau praktek “memejamkan mata” yang mendatangkan kedamaian pikiran serta untuk mencicipi manisnya karunia Tuhan menjadi jauh dari harapan.Sebagian lagi,ada praktisi yang lebih kreatif mulai mengembangkan ide ide baru sebagai pelampiasan sulitnya “mengistirahatkan” gerak pikirannya. Mereka berspekulasi bahwa melalui meditasi mereka bisa berkomunikasi dengan berbagai “mahluk halus”,bisa melihat sinar warna warni bak pelangi atau menembus alam ghaib yang sulit dijelaskan.Bagaimanapun juga,pengalaman yang “tidak jelas” semacam ini cukup untuk memberi penghiburan mental,meski semua itu sesungguhnya tidak jelas dalam makna dan memang tidak pernah betul betul jelas, pun bagi yang bersaksi telah mengalaminya. Karena,toh “saksi” dan “pelakunya” adalah oknum yang sama; pikiran!

Sebagian praktisi lainnya,mungkin terpaku dengan hasil hasil yang bersifat temporer yakni hadirnya perasaan nyaman,segar,ringan atau enteng ketika sedang bermeditasi atau sesaat setelah meditasi.Terkesan dengan perasaan nyaman “sementara” yang pernah dialaminya,mereka menjadi ketagihan untuk melakukan meditasi.Meditasi dianggapnya “tempat pelarian” untuk mereguk setetes kenyamanan semacam itu. Dipihak lain,mereka yang motivasinya lebih simple,mungkin langsung berpuas diri dengan menetapkan hanya l tujuan saja dalam meditasi mereka yang harus dicapai,misalnya untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Ada yang berhasil namun tentu ada juga yang gagal.

Apapun motif awalnya,rata rata perjalanan selama “memejamkan mata” itu pasti berkutat diseputar hiruk pikuknya dunia pikiran.Tidak perduli apakah seorang meditator merapal mantra mantra yang sangat panjang atau mengulang ulang “mantra keramat” yang aneh dan langka atau mungkin praktis tanpa mantra sama sekali.Semua pasti sempat tenggelam kedalam peran “sutradara”yang sibuk mengatur gambar gambar film tak berjudul didalam layar pikirannya.Meditasi memang bukan hal yang mudah!Apalagi sebagian besar mereka yang mengaku sebagai guru guru meditasi yang diharapkan betul betul bisa membimbing “luar-dalam” hanya ahli memberi instruksi luar,jarang yang mampu menuntun langsung muridnya dari dalam (secara inner).Dalam konteks ini,barangkali sosok guru yang paling baik adalah pengalaman kita sendiri.Dengan tidak bermaksud mengabaikan pentingnya peran pembimbing (guru),bagaimanapun juga jam terbang latihan seseorang sangat penting untuk mengukur kemajuan meditasi.
Apa yang sesungguhnya terjadi ketika kita memejamkan mata atas nama meditasi? Penjelasan yang diperlukan untuk pertanyaan ini merupakan sub yang harus dipahami dengan baik dalam system pengetahuan tentang Siapa Aku Sesungguhnya (atmavidya). Semua materi dalam bab sebelumnya secara umum telah menjawab pertanyaan diatas.Meski demikian sedikit uraian yang lebih “tajam” tampaknya perlu diberikan disini.

Sebagaimana kita ketahui bahwa “kuda kuda indriya” berkecenderungan untuk mengejar sensualitas (wisaya).Sebagai contoh; daya penglihatan (melalui mata) cenderung mengejar keindahan warna dan bentuk. Indriya pendengaran menyukai bunyi yang menyenangkan dan lidah tergiur dengan rasa yang nikmat.Indriya pembau gandrung dengan aroma atau bau bauan yang harum dan indriya peraba kita mabuk dengan sentuhan yang lembut romantis. Semua dari mereka ini berusaha mempertahankan kebiasaan dan kecenderungannya sendiri sebagai bagian dari “sifat bawaannya” yang khas.Sang “aku yang menyatakan diri sebagai Vrtti Sarupya (aku adalah gelombang keinginan,pikiran/manas,raja dari semua indriya) dengan amat mantapnya menggerakkan kelima pembantunya itu (panca indriya) untuk berjuang mengejar sensualitas mereka.Sang “aku” merasa,dialah yang akan menikmati semuanya itu. Begitulah para pembantu itu berlomba lomba mengejar dan meraih kenikmatan untuk dipersembahkan kepada tuannya,sang pikiran.Setiap persembahan kenikmatan yang diberikan kepada pikiran,ibarat badai yang menghantam permukaan danau manas (pikiran),sehingga airnya goyang bergelombang.

Ironisnya,setiap kenikmatan yang diterima selalu disusul oleh ketidak puasan.Sebab,alat dan juga obyek kenikmatan yang diambil dari unsur unsur eksternal (lingkungan,dunia obyektif) sifatnya tidak permanen,tidak tahan lama alias fana.Sifat ini telah melekat pada dunia ini (alam) dan berlaku untuk semua materi yang ada didalamnya sejak purwakala saat mereka ter-emanasi dari prakrti.Disamping itu,setiap persembahan kenikmatan yang disampaikan kepada sang raja indriya (pikiran) selalu menimbulkan rasa ketagihan atau keinginan yang berlipat ganda untuk mengalaminya kembali.Pada sisi lain,jika alat alat pemuas itu gagal memberikan kenikmatan atau kesenangan kepada pikiran,maka akibatnya adalah rasa sakit hati,keputus asaan atau penderitaan serta kemarahan.Apakah setetes kenikmatan atau keputus asaan yang terjadi pada pikiran dari interaksi kemelekatannya dengan obyek obyek indriya,keduanya adalah badai yang bertanggung jawab dalam menggoncangkan permukaan air danau manas atau pikiran itu. Badai ini,seperti yang telah disinggung dalam bab sebelumnya disebut vrtti citta. Vrtti citta yang mengandung topan keinginan itu akan membekas sebagai kesan kesan yang kemudian menjelma menjadi dorongan hasrat ketagihan (wasanas).Dengan selalu memanjakan dorongan ketagihan inderawi tersebut,gelombang vrtti citta menjadi semakin besar. Sebagai akibatnya danau manas akan penuh dengan gelombang keresahan dan terombang ambing dalam ketidak pastian (viksepa). Bila hal ini terjadi terus menerus,berlanjut dari menit ke menit,jam ke jam dan seterusnya,maka pekerjaan meditasi menjadi bertambah rumit.

Dalam meditasi,pertama tama perhatian kita bergerak dari permukaan pikiran menuju dasar pikiran. Dan,bla..bla..bla..ketika kita menyentuh permukaan itu,kita langsung berhadapan dengan gelombang pasang beragam keinginan,berikut tampilan warna warni dorongan hasrat ketagihan yang muncul dari memori citta. Gambar gambar mentalpun menjadi ramai dan pikiran seakan penuh dengan program “sinetron’ tak berjudul. Hiruk pikuk lalu lintas keinginan yang tak mengenal lampu merah pun turut mewarnai gambar gambar mental itu.Inilah gambaran umum,yang juga sangat umum dialami oleh pelaku meditasi umumnya. Maka langkah pertama yang perlu dilakukan dalam berlatih meditasi adalah mengendalikan vrtti citta itu.Pekerjaan ini memang bukanlah hal yang mudah.Sebagai ikhtiar awal kiranya penting dipahami pengetahuan yang berkaitan dengan cara kerja pikiran kita sebagai bagian dari system pengetahuan tentang Siapa Aku Sesungguhnya! Bersamaan dengan itu,meditasi hendaknya dipahami sebagai perjuangan untuk mengganti kaset proyektor cipta dalam mesin manas. Rekaman dalam pita kaset menentukan jenis gambar film yang akan muncul dalam layar cipta.Kesadaran diri bertindak sebagai penonton dan asik menikmati tampilan gambar bila pemutaran film cipta berlangsung. Ia berkecenderungan aktif untuk memberi komentar terhadap apa yang dilihatnya bahkan senang mengembangkan skenario skenario baru tanpa arah dan tujuan yang jelas.Kecenderungan itu harus diubah untuk “menyelami dirinya sendiri”,bukan untuk menilai gambar dalam layar yang tampil didepannya. Pada kasus ini daya kemauan atau daya kehendak yang dapat mengarahkan pikiran ke satu tujuan menjadi amat penting. Motif berlatih yang kuat,keyakinan serta arah yang jelas akan memberi perlawanan yang berguna setiap terjadi penyimpangan dalam tampilan layar cipta.


Selengkapnya,silakan baca buku “Ajaran Meditasi sejati Brahma Astra”,Penerbit Paramita Surabaya

1 Komentar »

  1. gimana craX meditasi untuk memulihkan cakra saya sudah lama gak pernah latihan dan saya juga dah lama gek pernah baca amalan

    Komentar oleh mochammad | Desember 10, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: